Categories
6. HIMAFI Departemen Sosro

SOS Himafi: Keajaiban Sedekah

SOS Himafi: Keajaiban Sedekah

Dep. Sosial dan Rohani | 16 November 2021

Izinkan aku membagikan sedikit pengalaman manisnya sedekah.

Pada tahun 2019, aku mengenal seseorang yang sangat berambisi untuk melanjutkan studinya ke Kairo, Mesir.

Sejuta mimpi telah aku rencanakan. Namun, apalah daya, manusia hanya sekadar berencana, biarlah Allah yang menentukan.

Qodarullah tahun 2019, aku harus menunaikan kewajiban mengajar di pondok pesantren asalku sebagai bentuk pengabdian selama setahun penuh.

Meskipun persiapan untuk pergi ke Mesir tertunda, aku tak lekas menyerah.

Sebaliknya, mimpi itu terus membara, semakin menguatkan tekad. Sembari menyelami semua ambisi untuk pergi ke Kairo, aku pasrahkan semua kepada-Nya. Aku yakin tahun 2020, Kementrian Agama RI pasti akan membuka kembali pendaftran bagi anak-anak Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan ke Mesir.

Semua harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Februari 2020, Kemenag menunda Seleksi Calon Mahasiswa Baru Timur Tengah. Pada saat itu, kesedihan menderaku karena impian untuk belajar ke Mesir lagi-lagi harus tertunda.

Setelah melalui proses pertimbangan yang lumayan alot, aku ikhlas untuk menutup jalan mimpi dan ambisi yang selama ini telah aku rancang sedemikian rupa. Aku harus bangkit kembali menyusun mimpi-mimpi baru, untuk kemudian bangkit bersamanya. Tak mudah untuk merancang dan menggapai mimpi tersebut.

Aku mengambil keputusan untuk melanjutkan studiku di dalam negeri dengan mengambil konsentrasi di bidang Sains.

Satu semester berjalan tanpa kesulitan berarti. Naik ke semester dua, 18 April 2021, hari tersebut merupakan hari terindah yang telah Allah berikan kepadaku; sedih, bahagia, penuh rasa syukur. Kenikmatan luar biasa yang dapat aku rasakan meskipun tak berakhir sesuai harapan.

Pada malam hari itu ada seorang ibu, dengan seorang anak dalam gendongan. Mereka duduk di pinggir jalan dengan wajah yang menyiratkan kelelahan. Banyak orang memilih menjadi pengemis sebagai alternatif mencari uang yang mudah, namun tidak dengan ibu dan anak tersebut.

Kuhampiri mereka, lantas bertanya, “Ibu, dari mana?”

Ibu tersebut menjawab, “Saya dari rumah majikan saya,”. Pada saat itu, aku teringat bahwa aku baru saja mendapatkan uang saku bulanan dari orang tua. Juga, tiba-tiba tebersit pesan dari guruku tentang sedekah, “Di dalam harta kita, ada hak orang lain, maka bersedekahlah,” begitu kira-kira pesan dari guruku.

Juga seorang guruku yang lain pernah berkata, “Pada hakikatnya, sedekah akan menjadi cahaya yang akan menerangi kita di alam kubur nanti, maka kelurkan nominal terbesar yang kamu miliki untuk bersedekah,”. Karena teringat pesan serta nasihat tersebut, aku keluarkan lah nominal terbesar di dalam dompetku saat itu. Tak banyak, tapi aku rasa dapat membantu ibu serta anak di depanku ini.

Setibanya di rumah, kami sekeluarga melakukan diskusi untuk mengahrakan adik yang ingin melanjutkan studinya ke Mesir, kami berdiskusi mengenai dana dan segala keperluan lainnyya. Ayahku kemudian bertanya, “Terus Kakak terakhir bisa ikut daftar seleksi ke Kairo tahun ini, ya?”, pertanyaan itu muncul karena aku menjelaskan bahwa Kemenag akan menerima mahasiswa baru dengan rentang tahun kelulusan maksimal tiga tahun setelah lulus.

Aku menjawab, “Iya, tahun ini merupakan tahun terakhir untuk daftar, Yah,”. Tanpa disangka-sangka, malam itu ayah berkata, “Ya sudah, kakak ikut tesnya, bimbingan ke Daurah, in shaa Allah dalam tempo dua minggu pasti bisa. Kalau pun gak bisa, yang penting kakak sudah merasakan proses untuk menggapai mimpi-mimipi kakak,”.

Seketika air mata jatuh dari kedua mata, merasa tak yakin akan pernyataan tersebut, maka kutanyakan kembali, “Ayah beneran? Ayah gak bercanda, kan? Kan aku udah masuk semester dua, udah bayaran juga,”

Ayahku menjawab, “Ngapain ayah bercanda, toh emang ini keinginan kakak dari dulu, kan? Ayah serius, tinggal kakak nya aja mau atau enggak. Kalau kakak mau, besok kita langsung berangkat ke Daurah yang di Serang untuk persiapan kakak. Masalah biaya, in shaa Allah, Allah kasih kemudahan. Kakak niat ke Kairo buat nuntut ilmu aja ayah udah bahagia,”. Pecah tangisku saat itu, dan tak henti-hentinya aku bersyukur.

Dari pengalaman tersebut, dapat kita ambil hikmah; bahwa sedekah tidak akan membuat miskin, melainkan membuat kita kaya, sekaligus Allah berikan kemudahan dari setiap arah kehidupan.

Sebagaimana firman-Nya, “Dan pada harta-harta mereka ada hak orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapatkan bagian,” Q.s. Adz-Dzariyat : 19

َ حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى وَلَا تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلَانٍ كَذَا وَلِفُلَانٍ كَذَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ

Telah menceritakan kepada kami Abu Hurairah radliallahu anhu berkata,: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahualaihiwasallam, dan berkata: “Wahai Rasulullah, shadaqah apakah yang paling besar pahalanya?”. Beliau menjawab: “Kamu bershadaqah ketika kamu dalam keadaan sehat dan kikir, takut menjadi faqir dan berangan-angan jadi orang kaya. Maka janganlah kamu menunda-nundanya hingga tiba ketika nyawamu berada di tenggorakanmu. Lalu kamu berkata, si Fulan begini (punya ini) dan si fulan begini. Padahal harta itu milik si Fulan”. (HR. Bukhari) [No. 1419 Fathul Bari] Shahih.

“Sedekah tidak akan membuat miskin, melainkan membuat kita kaya, sekaligus Allah berikan kemudahan dari setiap arah kehidupan,”

Fulanah
Keajaiban Sedekah