Categories
6. HIMAFI Departemen Sosro

TAHUN BARU ISLAM

TAHUN BARU ISLAM

Dep. Sosro | 10 Agustus 2021

Umat Islam di seluruh Indonesia sebentar lagi akan merayakan tahun baru Islam yang tepatnya jatuh pada tanggal 10 Agustus 2021, 1 Muharram 1443 H. Namun, adakah dari kalian yang sudah mengetahui sejarah tahun baru islam dari mulai awal penanggalan Hijriah hingga dalil dalam penentuan tanggal ini? Jika belum, simak baik baik.

Kalender Hijriyah atau biasa disebut Kalender Islam dalam bahasa Arabnya adalah at-taqwim al-hijri, adalah kalender yang digunakan oleh umat Islam dari zaman dahulu hingga saat sekarang ini, biasanya digunakan dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad SAW, dari Makkah ke Madinah.

Tahun Baru Islam merupakan suatu hari yang penting bagi umat Islam karena menandai peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Islam yaitu memperingati penghijrahan Nabi Muhammad saw. dari Kota Mekkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 1 Muharram tahun baru bagi kalender Hijriyah. Namun Tahun Hijrah Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah itu diambil sebagai awal perhitungan bagi kalender Hijriyah.

Musyawarah yang dilakukan khalifah Umar dan para sahabatnya serta orang terpandang menghasilkan beberapa poin penting, yakni pilihan tahun bersejarah untuk dijadikan patokan tahun Islam, diantaranya adalah kebangkitan Nabi Muhammad menjadi Rasul, tahun kelahiran Nabi Muhammad, dan wafatnya, dan ketika Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah. Dari sekian banyak pilihan dipilihlah bahwa patokan tahun ketika Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah. Dikarenakan salah satu ayat dalam Al-Quran surat At-Taubah

لَمَسْجِدٌ اُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ اَوَّلِ يَوْمٍ اَحَقُّ اَنْ تَقُومَ فِيهِ

“Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya” (Qs. At-Taubah : 108)

Para sahabat memahami bahwa yang dimaksud dengan “sejak hari pertama” adalah hari pertama kedatangan Nabi dari hijrahnya sehingga para sahabat menggunakan momen tersebut untuk digunakan sebagai acuan tahun Hijriah. Mengapa para sahabat dan khalifah Umar saat berunding tidak memilih opsi selain daripada hijrahnya Nabi menuju Madinah ? Hal ini dijelaskan oleh Ibnu Hajar Rahimahullah:

Kalender ini hanya dimulai pada zaman Khalifah Arrasyidin kedua yaitu Umar al-Faruq R.A. Ada beberapa saran dari para sahabat untuk penetapan tanggal bagi Madinah ketika itu, ada yang mengusulkan tahun Islam dimulai ketika kelahiran Nabi Muhammad SAW, ada yang mengusulkan awal tanggal Islam ditetapkan pada hari Rasulullah diangkat sebagai nabi dan rasul tetapi pandangan yang menyarankan awal tanggal Islam pada tanggal hijrah Nabi SAW. 

لأن المولد والمبعث لا يخلو واحد منهما من النزاع في تعبين السنة. واما وقت الوفاة فأعرضوا عنه لما توقع بذكره من الأسف عليه, فانحصر في الهجرة

‘Karena tahun kelahiran dan tahun diutusnya beliau menjadi Nabi tidak diketahui secara pasti. Adapun wafat beliau, para sahabat tidak memilihnya karena akan menyebabkan kesedihan manakala teringat tahun tersebut. Oleh karena itu ditetapkanlah peristiwa hijrah sebagai acuan tahun” (Fathul Bari, 7/335)

Penetapan ini adalah untuk mengenangkan betapa pentingnya tanggal hijrah yang menjadi perubahan paradigma dalam sejarah agama Islam yang mana pertama kali dalam sejarah Islam. Kalender Hijriyah secara resmi belum dimulai ketika zaman Rasulullah S.A.W. Kalender ini hanya dimulai pada zaman Khalifah Arrasyidin kedua yaitu Umar al-Faruq R.A. Ada beberapa saran dari para sahabat untuk penetapan tanggal bagi Madinah ketika itu, ada yang mengusulkan tahun Islam dimulai ketika kelahiran Nabi Muhammad SAW, ada yang mengusulkan awal tanggal Islam ditetapkan pada hari Rasulullah diangkat sebagai nabi dan rasul tetapi pandangan yang menyarankan awal tanggal Islam pada tanggal hijrah Nabi SAW. Penetapan ini adalah untuk mengenangkan betapa pentingnya tanggal hijrah yang menjadi perubahan paradigma dalam sejarah agama Islam yang mana pertama kali dalam sejarah Islam.

Bulan Muharram bagi umat Islam dipahami sebagai bulan Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, yang sebelumnya bernama “Yastrib”. Sebenarnya  kejadian hijrah Rasulullah tersebut terjadi pada malam tanggal 27 Shafar dan sampai di Yastrib (Madinah) pada tanggal 12 Rabiul awal. Adapun pemahaman bulan Muharram sebagai bulan Hijrah Nabi, karena bulan Muharram adalah bulan yang pertama dalam kalender Qamariyah yang oleh Umar bin Khattab, yang ketika itu beliau sebagai khalifah kedua sesudah Abu Bakar, dijadikan titik awal mula kalender bagi umat Islam dengan diberi nama Tahun Hijriah.

Masa khalifah Umar bin Khattab memang terdapat banyak sekali kemajuan salah satunya di sistem penanggalan. Menurut para ulama pakar tarikh, latar belakang Umar menetapkan sistem tanggal yang baku berawal dari surat yang dikirim oleh gubernur Basrah kala itu, Abu Musa Al-Asy’ari.

 انه يأتينا منك كتب لها ليس تاريخ

“Telah sampai kepada kami surat-surat dari Anda, dengan tanpa tanggal”

Dalam penulisan surat menyurat sebenarnya tidak ditulis secara pasti tanggal penulisannya dan hari pengirimannya sehingga khalifah Umar kesulitan dalam memilah mana surat yang terlebih dahulu sampai, karena khalifah Umar tidak menandai surat yang lama dan yang baru. Sehingga khalifah Umar pun memanggil para sahabatnya dan orang terpandang untuk diajak berunding mengenai masalah ini. Khalifah Umar pun berkata “Perbendaharaan negara semakin banyak. Apa yang kita bagi dan sebarkan selama ini tidak tertanggal secara pasti. Bagaimana cara mengatasi masalah ini ?”.

Maka dapat disimpulkan awal tahun Hijriah dimulai ketika Nabi hijrah dari Makkah menuju Madinah. Untuk acuan bulan tetap menggunakan sistem qamariyah dengan bilangan 12 bulan per tahunnya. Nama-nama bulan yang dipakai adalah seperti nama-nama bulan yang memang berlaku sejak saat masa kenabian dari mulai bulan Muharram sampai dengan Dzulhijjah dengan 4 bulan Haram (tidak boleh ada peperangan di dalamnya), yakni bulan Dzulqa’idah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Sebagai informasi tambahan bahwa pada masa dahulu pada kaum Quraisy, dikenal praktek Nasi’, yang memungkinkan kaum tersebut untuk menambahkan bulan ke-13 pada setiap 3 tahun agar bulan-bulan sistem qamariyah selaras dengan perputaran musim. Ketetapan Allah mengenai praktek Nasi’ ini ada pada surat At-Taubah ayat 36 :

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ الله اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالاَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ …

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah adalah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya ada empat bulan haram…” (Qs. At-Taubah : 36)

Atas inilah ketetapan mengenai tahun dan bulan dari kalender Hijriah yang memiliki perbedaan dengan kalender lainnya yang mayoritas kita kenal bersistem syamsiyah. Dedikasi para sahabat saat itu tentang pentingnya penanggalan sangat memudahkan mereka dalam mengatur segala sesuatu yang membutuhkan penanggalan, sebutlah dalam kasus surat menyurat.

Sebentar lagi umat Islam di Indonesia nanti merayakan tahun baru Islam di tanggal 10 Agustus 2021. Tentunya dengan mengetahui sejarah tahun Islam maka diharapkan kita lebih mengetahui makna  dari tanggal 1 Muharram itu sendiri, yakni momen hijrahnya Nabi menuju Madinah sehingga diharapkan bahwa tahun sebelum dan sesudahnya terjadi “hijrah” sikap, hati dalam hal taqwa kepada Allah seperti hijrahnya Nabi Muhammad SAW.