Categories
6. HIMAFI Departemen Kominfo

Bisnis Startup dan Perkembangannya di Indonesia

Bisnis Startup dan Perkembangannya di Indonesia

Dhika Faiz Fadrian | 10 Oktober 2021

Startup adalah sebuah perusahaan yang berjalan dibawah 5 tahun alias perusahaan yang baru saja dirintis. Menurut Wikepedia,startup adalah perusahaan yang belum lama beroperasi. Perusahaan ini sebagian besar merupakan perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat

Oleh karena itu startup serimg disebut sebagai perusahaan rintisan.karena seperti yang disebutkan di atas perusahaan ini merupakan perusahaan yang baru berdiri dan masih mencai pasar tapi di sekitar tahun 2000-an ketika internet mulai berkembang dan industry ‘dot-com’ mulai popular istilah startup mulai agak bergeser yang awalnya starup merupakan istilah semua bisnis yang baru dimulai di era sekarang startup identik dengan industri digital untuk menjalankan core business-nya dan memcahkan sebuah masalah di masyarakat

Apa sih industri digital itu? menurut Wilson Cuaca Co-founder dan managing partner, East Ventures yakni sebuah investor startup tahap awal mengatakan bahwa industry digital adalah perekonomian yang berbasis penguasaan teknologi dan pengetahuan (knowledge based economy) bukan bertumpu pada penguasaan asset.

Juga dijelaskan oleh dia Indonesia merupaka pasar digital terbesar di asia tenggara, berkontribusi terhadap 40% dari ekonomi internet di regional dalam menarik uang investor, Indonesia menempati peringkat ke dua setelah singapura dan juga masalah-masalah yang ada di Indonesia bisa menimbulkan banyak inovasi di zaman digital ini.

Di dalam membuat suatu startup ini kita harus tau apa sih poin-poin penting dalam membangun suatu startup menurut Candra Adi putra di dalam blognya menulis bahwa ada 2 poin penting dalam pembangunan suatu startup:

1. Ide atau produk

Tentu saja dalam membangun startup dibutuhkan ide yang menarik atas masalah-masalah di Indonesia bahkan dunia dibutuhkan sebua ide yang original yang dimaksud original disini bukan berarti yang pertama mempunyai ide itu ya.pemikir original dalam buku “Originals” yang ditulis oleh Adam grant bahwa salah satu cara untuk menemukan ide yang orisinil adalah terus mencoba dan tidak apa-apa jika engkau mendapatkan ide yang buruk sampai akhirnya engkau mendapatkan ide yang baik dari ide-ide yang buruk itu kita bisa melihat contoh tersebut pada seorang Thomas alva Edison yang menemukan bola lampu melalui banyak ide-ide yang buruk salah satunya dia membuat boneka yang bisa berbicara agak lucu sih tapi akhirnya dia bisa membuat salah satu inovasi terbaik di abad 20 yaitu bola pijar

2. Kolaborasi

Di membangun startup sendiri tentu saja kita harus mempunyai jiwa kolaborasi antar sesama kita harus bekerjasama mungkin ada yang pintar dalam membangun relasi antar sesama ada yang pandai dalam marketing ke investor-investor dan mungkin ada juga yang mahir dalam urusan digital baik itu membuat website atau aplikasi.Kolaborasi merupakan energi dalam semua bisnis.Bisnis akan semakin kuat ketika suatu perusahaan mampu mengembangkan system kolaborasi baru yang membuka jalan untuk sebuah inovasi.

Jadi kesimpulan pribadi yang saya bisa ambil startup merupakan perusahaan rintisan bersama yang baru didirikan untuk mengatasi masalah-masalah masyarakat baik melalui teknologi ataupun dengan cara-cara inovatif yang lain, yang dibutuhkan dalam membangun startup yang penting adalah ketekunan seseorang, kemauan dan kolaborasi di semua lini baik pemangku kepentingan seperti pemerintah pusat dan kita sendiri sebagai masyarakat yang merasakan.

Perkembangan STARTUP di Indonesia

Jika dipikir-pikir perkembangan startup di Indonesia bisa kita bandingkan dengan adaptasi penduduk Indonesia dengan aplikasi mobile sebuah riset yang dibuat East Ventures menunjukkan ada 140 juta penambahan pengguna internet di Indonesia tahun 2009-2019 hal ini bisa tentu saja menunjukkan perkembangan digitalisasi yang akhirnya membentuk startup-startup yang bisa membantu masalah-masalah masyarakat yang dulunya Cuma harapan sekarang bisa berubah menjadi kenyataan yang menyenangkan semua pihak

Tapi tentu saja disetiap sisi baik perubahan digitalisasi ini terdapat sisi-negatif Ini terlihat dari banyaknya perusahaan retail yang menutup gerainya, perusahaan taksi yang mengurangi jumlah armada secara signifikan, serta perbankan yang menutup sebagian kantor cabang. Mereka harus menghadapi persaingan ketat dengan para pemain digital, seperti e-commerce, transportasi online dan financial technology. Dampak negatif ini juga dirasakan oleh para pekerja yang tidak atau kurang terampil. Di daerah-daerah dengan daya saing digital yang cukup tinggi, porsi pekerja rentan digitalisasi mengalami penurunan. DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat sebagai daerah yang masuk dalam 5 besar dengan daya saing digital tertinggi, mengalami penurunan porsi pekerja rentan yang tertinggi.

Salah satu hal yang menyebabkan hal ini salah satunya adalah tak seimbangnya keterampilan sumber daya manusia. Sayangnya, perkembangan pesat ekonomi digital tersebut tidak diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM). Keterbatasan tim SDM yang terampil menjadi hambatan terbesar bagi inovasi digital. Contohnya di industri jasa finansial, SDM dengan keterampilan digital sekaligus memiliki keterampilan utama, jumlahnya sedikit di pasar industri finansial dan tenaga kerja.
Hasil studi PwC, “Fit to Compete” yang dirilis pada Oktober 2019 menunjukkan 80% pemimpin industri finansial khawatir kurangnya keterampilan akan menghambat pertumbuhan. Sedangkan, 54% kepala eksekutif industri finansial mengatakan bahwa kurangnya keterampilan menghambat kemampuan perusahaan untuk berinovasi dengan efektif.

Menurut kajian tersebut,keterampilan teknis,kemahiran analis data dan pemikiran desain yang dibutuhkan perusahaan industry finansial,semuanya membutuhkan orang-orang dengan keterampilan tinggi.memiliki tenaga kerja yang terampil dan mahir digital sangat dibutuhkan untuk keberhasilan strategi digital institusi keuangan yang lebih luas

Studi McKinsey Global Institute pada Januari 2017 berjudul “Jobs Lost, Jobs Gained: Workforce Transitions in a Time of Automation” juga menyebutkan bahwa perkembangan teknologi digital menuju revolusi industri 4.0 akan berdampak pula terhadap pergeseran jenis tenaga kerja. Sekitar 400 juta – 800 juta orang kemungkinan bakal digantikan mesin dan harus mencari pekerjaan baru pada 2030 di seluruh dunia.

Yang paling rentan terotomatisasi adalah pekerjaan-pekerjaan yang lebih banyak melibatkan kekuatan fisik seperti operator mesin. Tren global menunjukkan bahwa sekitar 60 persen pekerjaan akan mengadopsi sistem otomatisasi dan 30 persen akan menggunakan mesin berteknologi tinggi. Namun, sebaliknya, teknologi digital akan menciptakan pekerjaan baru dan mayoritas berada di sektor jasa. Sektor jasa akan mengalami pertumbuhan tinggi sejalan dengan perkembangan teknologi digital dan membutuhkan tenaga kerja yang middle higher skilled.

Sebenarnya pemerintah suah mempunyai program-program untuk membangun SDM unggul salah satunya menurut presiden Joko Widodo dalam artikel bali express adalah pentingnya sekolah vokasi dalam mencetak sumber daya manusia yang handal,terampil dan siap kerja dan melek teknologi
Di dalam artikel tersebut juga Pakar kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadian mengatakan, Jokowi menginginkan agar Indonesia memiliki SDM terutama generasi muda yang kompetitif dalam rangka memasuki era revolusi industri 4.0 dan society 4.0.

Oleh karena itu pengembangan SDM lebih menekankan profesional, aspek inovasi, aspek vokasi dan aspek jaringan serta capacity building karena semua itu akan mengarah pada visi Indonesia Emas 2045.Trubus mengatakan, apa yang dilakukan oleh Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut sebenarnya bukanlah hal baru terkait dengan pembangunan SDM. Hanya saja, menurutnya, apa yang disampaikan Jokowi berusaha untuk lebih bersifat praktek.

Misalnya seseorang diberi pelatihan-pelatihan atau lokakarya, penambahan skill salah satu unsurnya dengan meluncurkan 3 kartu sakti dimana kartu Prakerja menjadi salah satunya.

Trubus menilai, Kartu Prakerja tersebut diharapkan dapat memberi bekal kepada calon pencari kerja fresh graduate untuk memperoleh pekerjaan dengan menambah skill keterampilan melalui pendidikan latihan dan yang lainnya.Dengan adanya peningkatan kualitas SDM maka diharapkan akan berdampak positif pada kesejahteraan dan daya saing bangsa terhadap kompetisi global.

Pemerintah juga sering membangun ekositem-ekosistem startup seperti contohnya ada program kominfo yaitu 1000 startup digital ada juga dari badan Ekonomi kreatif yang membangun Bekraf for Pre Startup yang dirancang untuk membangun starup dari awal sampai akhir di bidang technopreneur juga Kementrian Riset dan teknologi melalui programnya membantu para mahasiswa untuk membangun bisnisnya sendiri di dalam panduan kegiatan-nya Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi tahun 2020 disebutkan bahwa perguruan tinggi sebagai salah satu pusat penyelenggaraan ilmu pengetahuan dan teknologi menurut Undang-undang No 12 Tahun 2012 memiliki tujuan untuk menghasilkan produk Iptek yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa. Manfaatnya akan terasa apabila hasil produk iptek tersebut dapat dikomersialkan. Dampaknya, ada perekrutan tenaga kerja baru dan subsitusi impor dari luar negeri.

Program Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi dari Perguruan Tinggi (CPPBT PT) yang sudah digulirkan sejak tahun 2016 adalah instrumen pendanaan yang mampu mengaplikasikan fungsinya dalam menghilirisasi hasilhasil inovasi teknologi yang ada di perguruan tinggi. Inovasi inilah diharapkan nantinya dapat menjadi sebuah usaha bisnis baru yang siap bersaing di pasar.

Dalam kurun periode 4 (empat) tahun sejak program pendanaan CPPBT PT ini digulirkan, sebanyak 558 CPPBT PT yang sudah didanai dengan sebaran berbagai perguruan tinggi di hampir seluruh provinsi. Seperti diketahui bahwa salah satu tujuan utama dari program CPPBT PT ini adalah mendekatkan dan mendorong hasil-hasil inovasi dari Perguruan Tinggi yang mempunyai nilai komersial untuk dihilirisasi yang dapat dirasakan oleh penggunanya, dimana pengguna dalam hal ini adalah masyarakatd an juga dipertegas bahwa program CPPBT PT ini sudah tidak lagi melalui LPPM/LPM/UP2M/UP3M/Lembaga Peneliti/Lembaga Pengelola di Perguruan Tinggi, dikarenakan selama periode 4 tahun sejak digulirkan, masih banyak produk inovasi tersebut yang belum sampai ke tahap komersialisasi. Ini dapat terlihat dengan minimnya jumlah CPPBT PT penerima pendanaan yang berhasil lolos/naik kelas ke program pendanaan PPBT dimana dari 588 penerima pendanaan CPPBT PT dari tahun 2016-2019, hanya 71 yang berhasil naik kelas ke program Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) atau sekitar 12%.tetapi diubah melalui lembaga incubator yang ada di perguruan tinggi negeri atau swasta dimana tingkat kesiapan teknologinya harus mencapai level 7 Yakni harus dalam tahap tervalidasi secara konsep, teknologi, dan lingkungan, seperti yang dikatakan bahwa program ini harus melalui lembaga incubator dan tentu saja lembaga itu harus mempunyai kurikulum pelatihan terhadap calon pebisnis yang nanti akan langsung dites oleh juri dari kementerian.

Seperti itulah kira-kira program pemerintah dalam membangun ekosistem startup-startup selain pemerrintah sendiri swasta juga ikut membantu dalam membangun ekosistem seperti yang dilakukan Techstar dan Plugandplay yang membuat program akselerasi dan sering berkolaborasi baik itu oleh kampus dan pemerintah daerah.

Selain itu juga east Ventures yang merupakan investor untuk start-up awal juga membuat suatu indeks yang dinamakan East Ventures-Digital Competitiveness Index (EV-DCI) atau bisa disebut indeks daya saing digital daerah-daerah di seluruh Indonesia yang bertujuan secara garis besarnya sebagai tolak ukur suatu daerah tentang apa sih pemanfaatan teknologi di suatu daearah itu apa sudah maksimal dan bagaimana dampak positif dan negatif terhadap perkembangan ekonomi digital di daerah itu

Semua program-program ini merupakan program yang sangat bagus dan adalah bentuk kolaborasi antar pemangku kepentingan dan para ahli dari segala bidang suatu hal yang akan membangun Indonesia yang bisa berdiri sendiri dalam ekonomi dan tentu saja bisa mensejahterakan semua rakyat sesuai dengan visi para pendiri bangsa ini,semoga saja.

Masalah-Masalah Inovasi


Tentu saja dibalik program-program yang dilampirkan di atas kita masih mempunyai beberapa kekurangan dalam berinovasi dan bagaimana cara inovasi salah satunya adalah tentang system inovasi.
Beberapa waktu lalu dalam rakornas Kemenristek/BRIN tanggal 30 januari 2020 di Tangerang selatan seorang professor yang merupakan penemu katalis biodesel dari ITB mengguyon presiden dia berkata “saya akan memanjat tiang bendera agar bisa bertemu presiden” begitu kata dia,mendengar seperti itu Edi santosa seorang guru besar tetap fakultas petarnian IPB dan juga Ketua Bidang kajian inovasi dan kebijakan pertanian berpikir bahwa itu hanyalah candaan professor

Tapi betapa kagetnya dia ketika professor subagio mengatakan “saya sudah promosikan temuan ini kepada 10 menteri” menurut dia ini merupakan bencana bagi inovasi Indonesia.sulit menemukan pengguna inovasi,khusunya men-delivery yang bukan pesanan.Dalam artikelnya yang berjudul Menanti Arsitektur Tol Inovasi ia menulis bahwa setidaknya ada sekitar 16.000 judul penelitian yang didanai kemristek tapi kurang dari 20 persen yang bisa dihirisasikan ke masyarakat sisanya masuk ke lembah kematian.

Saya juga salut kepada lebih dari 5.000 kolega profesornya yang rela belajar pemasaran dan marketing sehingga bisa menjual produknya sebenarnya menurut dia peristiwa ini ada hubungan-nya dengan kasus viral lain yakni pernyataan presiden terhadap banjir Jakarta dan keberhasilan seorang pemuda dari suatu desa di Sulawesi yang membuta pesawat terbang dari barang bekas.pertama ditegaskan bahwa semua orang bahkan anak muda yang masih berumur 34 tahun bisa berinovasi dan yang kedua adalah pertanyaan saya mengapa ide-ide tersebut tak bisa direalisasikan ?

Sebenarnya menurut dia pertanyaan yang benar adalah “mengapa sistem inovasi kita tak mampu dikenali secara cepat?” jawabanya ternyata ada pada pidato presiden itu pak presiden mengatakan yakni sistem invensi dan inovasi kita belum terintegrasi dan terkonsolidasi baik pada agenda riset, anggaran aktor, dan jejaringnya.

Hasil dari tak terintegrasi dan tak terkonsolidasi menyebabkan banyak problem misalnya saja hasil karya dari lima penyelenggara iptek yaitu perseorangan,kelompok,badan usaha,litbang,pemerintah,dan swasta mereka seakan-seakan rapat tersembunyi.Adopsi tidak berdiri sendiri,itu tidak lepas dari arsitektur utama sistem invensi dan inovasi yang melibatkan peran lembaga dan penyelenggara iptek.

Kayal (2008) dalam artikelnya di International Journal of Entrepreneurship and Innovation Management,menceritakan peran arsitektur sistem inovasi yang bersifat unik tiap negara,Arsitektur menghubungkan aktor,lembaga dan jejaring,yang masing-masing membutuhkan tata kelola sistem perencanaan,infrastruktur dan sumber daya.Kunci suksenya adalah keterhubungan dalam kapasitas mencipta, jejaring, dan permintaan teknologi.

Ya kira-kira itu pendahuluan yang diberikan oleh pak edi santosa dia menjelaskan secara gamblang bahwa sistem inovasi kita masih lemah dan tak menghubungkan Antara supply dan demand-nya dia lanjut mengatakan bahwa sudah ada ramb-rambu yang mengatur arsitektur dari sitem inovasi ini itu tercantum dalam UU NO 11/2019 tentanh Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Yang masih dituggu ialah bagaimana Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) bisa membuat tata kelola yang menggabungkan aktor, lembaga, jejaring, dan kunci sukses itu? tata kelola seperti apa?

Yang mengedepankan integrasi dan konsolidasi dalam kelembangaan-nya tetapi tetap menjaga kemandirian penyelenggara iptek,artinya BRIN butuh dukungan lembaga iptek yang tersebar dalam kemenrian dan lembaga juga sitem tata kelola ini harus mengedepankan prinsip pelayanan,mendorong kekuatan bangsa sendiri,dan mengoptimalakan segenap sumber daya.

Tata kelola itu juga harus memanfaatkan sistem-sistem yang up to date agar bisa bersifat akseleratif, partispatif, dan mandiri sistem yang dimaksud disini seperti IoT, Cloud computing dan big data yang bisa membantu para aktor inovasi dan yang ingin membeli inovasi
Menurut dia ada lima komponen yang perlu dibangun unyuk menampung lalu lintas invensi dan inovasi agar lebih produktif dan provokatif disini saya akan menulis tiga saja yang diantara-nya

1. Menghimpun Demand

Selama ini kebutuhan invensi-inovasi dihimpun secara berjenjang. Mula-mula tim mendengarkan aspirasi Perguruan Tinggi, litbang, perekayasa, bisnis, swasta, dan masyarakat. Lalu dibandingkan dengan program unggulan pemerintah.Akhirnya panel ahli memutuskan prioritas riset nasional,tetapi ketersediaan sumber daya memaksa tim membuat priotitas ini dan lazim terjadi prioritas tertuju pada hasil yang berdampak besar sehingga kemungkinan menghilangkan inovasi di bidang mikro, alhasil masyarakat di bidang itu tak melihat inovasi apa yang dihasilkan dan keuntungan-nya buat mereka,maka dari itu perlu dibuat suatu basis data yang menampung semua kebutuhan invensi dan inovasi. basis data itu mengumpulkan aspirasi semua pemangku kepentingan seperti pebisnis besar sampai umkm dan masyarakat kecil.

daftar itu bisa dimasukkan secara online baik di aplikasi atau web, pemerintah atau lembaga perlu berperan, mengawal, meng-otorisasi serta memperkuat basis data itu sehingga mampu menyajikan secara transparan siapa,kapan,dimana,dan butuh apa saat pemangku kepentingan ingin menginput permintaan,calon pengguna seperti lembaga, perguruan tinggi, dll perlu menunjukan komitmen pembayaran tapi untuk pengguna biasa biarlah urusan dana menjadi tanggung jawab lembaga jadi tak ada penghalang Antara dana dan layanan inovasi.

2. Mengorganisir Inventor

Kita awali dengan banyaknya inventor di Indonesia yaa,apakah cukup atau cuma seberapa? dilihat dari rasio per 1 juta penduduk Indonesia ada 1.071 peneliti angka ini mendekati rasio china yaitu 1.235 orang. Jika dibandingkan dengan Malaysia dan singapura yang penelitinya 6.000 orang kita masih jauh namun kan penduduk kita lebih banyak tapi secara angka absolut potensi inventor kita sangat besar lebih dari jutaan orang.

Tapi sayangnya penyelenggara iptek tersebut yakni peniliti belum di-integrasikan mungkin dengan ide mengkreasi identitas inventor sebagai seseorang yang hebat seperti membuat nomor khusus untuk inventor, nomor itu juga akan melekat pada karya-karyanya sehingga lembaga akan mudah melacak, mempromosikan dan mengajak kolaboasi antar ilmuwan dan pemerintah yang akhirnya akan membangun produktivitas SDM di indonesia

3. Konektivitas Penyelenggara

Saat ini ada sekitar 5.000 lembaga iptek di seluruh Indonesia tapi sayangnya lembaga-lembaga iptek ini belum saling terhubung satu sama lain, hal ini tentu saja bukan hal yang baik untuk inovasi diperlukan suatu kolaborasi antar semuanya

Menurut pak Edi Santosa ada empat keuntungan jika lembaga ini saling terhubung satu sama lain

1. Meningkatkan kesadaran dan Kelembagaan

Pada bulan juli 2019 tepatnya di daerah Meunasah Rayeuk,Aceh Utara seorang pemuda bernama Tengku Munirwan mampu memproduksi pada IF8 yang mampu memproduksi 12 ton gabah kering panen tapi sayangnya dia harus berurusan dengan polisi karena tak mempunyai sertifikasi yang jelas.

Dengan terkoneksinya lembaga para inventor mampu dengan cara gampang mempunyai wawasan kelembagaan yang memadai baik lembaga etik ,verifikasi,uji publik,sertifikasi maupun komesialisasi

2. Mendorong resource sharing dan mengoptimalkan pendanaan

Keberhasilan riset membutuhkan peralatan,teknisi,syarat-prasarana,dana,dan akses informasi yang baik tapi tentu saja di lapangan masih ada kesenjangan Antara antarlembaga baik jumlah maupun mutunya

Maka dari itu diperlukan suatu sharing agar kecepatan invensi-inovasi kita bisa berjalan secara maksimal perlu adanya kolaborasi lagi-lagi inilah cara yang sangat penting untuk kita pertimbangkan di masalah dana juga banyak masalah yang terjadi.Saat ini saja dana penelitian nasional 74% berasal dari APBN.

Dengan sisanya bantuan swasta dan luar negerti.Dengan dana riset APBN 2020 sebesar 28 Triliun,perorang mendapatkan sekitar 88 juta perorang ini jauh lebih kecil dengan jepang yang dana risetnya sebesar 2,6 Miliar per orang apalagi ditambah dengan dana riset mahasiswa masih sulit.dengan konektivitas antar lembaga memungkingkan kolaborasi dana dan resource yang lain.

3. Perbaikan Tata Kelola Bahan Beracun

Tentu saja kita masih ingat dengan kasus di Batan kemaren yang mengakibatkan hal itu viral,pasti banyak diluar sana yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun,banyak riset melibatkan mikroorganisme, patogenik dan bahan beracun yang lain.

Hal ini tentu saja menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat diperlukan tata kelola yang terintegrasi,keterlecakan B3 secara hulu-hilir dari importir sampai tata kelola pembuangan harus diperhatikan

4. Saling Mengumpan Hasil Invensi dan Inovasi

Di perguruan tinggi salah satunya di UIN Jakarta, banyak mahasiswa-nya yang mampu menghasilkan inovasi-inovasi yang hebat dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat tapi saying-nya tidak ada kerjasama antara lembaga kaji teknologi dengan perguruan tinggi.

Diperlukan suatu kerjasama yang sistematis Antara kedua belah pihak lembaga kaji bisa mengumpan masalah yang ditemukan ke perguruan tinggi dan nantinya bisa dikaji dan menghasilkan inovasi yang bisa menjadi industri.

KESIMPULAN

Itulah beberapa materi yang bisa saya sampaikan tentu masih banyak kendala dan masalah dalam sistem inovasi kita, kita mempunyai manusia-manusia yang rajin di seluruh penjuru kita bisa berkolaborasi bersama bukan hanya fokus dalam satu bidang tapi dalam banyak permasalahan, di Akhir makalah ini saya akan mengambil pasal di salah satu UU NO 11 TAHUN 2019 yang menjelaskan kedudukan ilmu pengetahuan di Indonesia

Pasal 6
(1) Ilmu Pengetahuan clan Teknologi berkedudukan sebagai modal dan investasi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang pembangunan nasional untuk:
a. meningkatkan kualitas hidup rnanusia;
b. merringkatkan kesejahteraan rakvat;
c. meningkatkan kemandirian;
d. memajukan daya saing bangsa;
e. memajukan peradaban bangsa
f. menjaga kelestarian alam;
g. melindurigi dan melestarikan seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia; dan
h. menjadi dasa-dasar dalam perumusan kebijakan dan menjadi solusi masalah pembangunan.

Referensi:

East Ventures-Digital Competitiveness Index 2020
UU NO 11/2019
Buku Panduan Calon perusahaan pemula berbasi teknologi internet

Berita lainnya

Categories
6. HIMAFI Departemen Kominfo

Gak Melulu Ruwet, 5 Film Ini Bakal Mengubah Perspektif Kamu Tentang Fisika!

Gak Melulu Ruwet, 5 Film Ini Bakal Mengubah Perspektif Kamu Tentang Fisika!

Dep. Komunikasi dan Informasi | 21 April 2021

Halo, Sobat-phy!

Pada kesempatan ini, kami memiliki beberapa rekomendasi film yang ada kaitannya dengan fisika, baik yang bertemakan keilmuannya itu sendiri, sampai yang bertemakan ilmuan fisikanya, loh! Film-film ini sangat cocok untuk Sobat-phy yang ingin mendapatkan pengetahuan sambil bersantai menonton film. Baca sampai habis, ya!

1. Interstellar (2014)

Film garapan Christopher Nolan ini menceritakan tentang seorang pria bernama Cooper (Matthew McConaughey) beserta timnya yang sedang menjalankan misi ke luar angkasa yang penuh misteri dan harus melewati lubang cacing (wormhole) dan terjebak di dimensi waktu ruang angkasa dalam upaya untuk menjamin kelangsungan hidup umat manusia di planet bumi. Film ini dibuat dengan bantuan ahli dalam bidang astrofisika yaitu Kip Stephen Thorne yang merupakan sahabat dekat Stephen Hawking.

Rating:

Rotten Tomatoes : 72%

IMDb : 8,6

2. The Theory of Everything (2014)

The Theory of Everything merupakan sebuah film biografi berdasarkan kisah nyata kehidupan ilmuwan terkenal Stephen Hawking dan istrinya yaitu Jane. Stephen Hawking (Eddie Redmayne) menderita penyakit ALS yang mematikan, tapi itu tak menghentikannya menjadi seorang pemikir brilian yang banyak menghasilkan ilmu-ilmu yang bermanfaat untuk dunia. Eddie Redmayne berhasil mendapatkan penghargaan piala Oscar sebagai aktor terbaik berkat perannya sebagai Stephen Hawking.

Rating:

Rotten Tomatoes : 80%

IMDb : 7,7

3. The Current War (2017)

Film ini mengisahkan persaingan ilmuan dalam menentukan sistem kelistrikan mana yang dapat memberikan dampak besar pada perkembangan dunia. Benedict Cumberbatch berperan sebagai Thomas Alva Edison, Nicholas Hoult berperan sebagai Nikola Tesla, dan Michael Shannon berperan sebagai George Westinghouse. Siapakah yang akhirnya akan berhasil mengembangkan teknologi listrik yang lebih baik dan efisien untuk dunia?

Rating:

Rotten Tomatoes : 61%

IMDb : 6,5

4. Particle Fever (2013)

Film dengan genre dokumenter ini mengisahkan para ilmuan yang bekerja bertahun-tahun dalam meneliti sesuatu yang selalu dipertanyakan yang dikhususkan untuk menemukan sesuatu yang hampir tak terukur yaitu Higgs Boson, sepotong subatomik yang diyakini oleh fisikawan memegang kunci untuk memahami alam semesta. Eksperimen ini dilakukan di Penumbuk Hadron Raksasa (Large Hadron Collider) milik CERN di Swiss.

Rating:

Rotten Tomatoes : 96%

IMDb : 7,4

5. Einstein & Eddington

Einstein & Eddington merupakan film yang berisikan antara persahabatan dan persaingan yang sangat mempengaruhi reputasi keduanya. Fisikawan brilian Albert Einstein naik sebagai ikon dengan dukungan ilmuwan Inggris Arthur. Kemitraan mereka, dengan resiko pribadi yang besar, mengubah jalan ilmu pengetahuan modern selamanya.

Rating:

Rotten Tomatoes : 74%

IMDb : 7,3

Sobat-phy sudah menonton 5 film rekomendasi dari kami, belum? Kalau belum, yuk segera tonton! Karena selain menjadi hiburan, tentunya film-film tersebut juga bisa menambah wawasan Sobat-phy tentang fisika beserta ilmuannya. Jangan lupa untuk menonton film-film tersebut di layanan streaming resmi ya, Sobat-phy!

Berita lainnya